Friday, January 9, 2015

Kita Itu Berbeda

Erix Imam Rizki, itu namanku. Setidaknya, itu nama terakhirku yang aku ketahui setelah beberapa kali Papa dan Mama mengganti namaku. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara dan aku adalah anak lelaki satu-satunya. Aku terlahir sebagai seorang pendiam, bahkan terkadang sangat pendiam, tapi... aku menikmatinya.

“Barangnya udah di tas semua kan?” tanya Papa.
“Udah semua kok Pa. Erix naik ke bus sekarang ya Ma, Pa, Kakak,” balasku sambil menyalami mereka.
“Iya. Hati-hati ya Rix. Nanti sampai disana telpon Om Ian ya biar dijemput. Salam ya buat semua,” jawab Mama.
“Iya Ma, Insya Allah,” jawabku sambil tersenyum sambil menaiki bus yang akan melaju membawaku.

MALAM INI, aku akan berangkat ke Medan. Aku akan mengunjungi Om dan Tanteku. Sejak kuliah, aku sudah tidak pernah lagi ke tempat mereka. Rasanya tidak adil jika hanya Om dan Tanteku saja yang terus-terusan pulang ke Aceh, sedangkan aku tidak pernah mengunjungi mereka. Kebetulan saat ini ada libur 3-5 hari menjelang ujian final.

Dinginnya AC bus ditambah cuaca malam hari dan alunan musik blues membuat siapa saja yang ada di bus ini terlelap dengan nyenyaknya. Tak terkecuali denganku, mataku juga terasa semakin berat menutup mata dengan secepatnya. “Aceh, sampai jumpa lagi 1 minggu kemudian,” ucapku dalam hati, seraya menyelimuti diri dengan selimut yang disediakan di bus. Perjalanan ke Medan malam ini pun aku lewatkan dengan tidur.

Suara azan Subuh membangunkanku dan semua penumpang. Rupanya, kami baru saja tiba di terminal bus Medan. Aku melihat ke arah jam yang di pasang di dekat TV bus menunjukan pukul 05:00 WIB dan aku tersadar akan satu hal, dari semalam aku lupa memberitahu Om Ian untuk menjemputku ke terminal. “Ah sudahlah, naik betor (becak motor) saja,” pikirku saat itu. Kemudian aku pun turun sambil membawa tas punggungku. Ketika turun dari bus, salah satu betor langsung menghampiriku.

“Ayo, sama saya aja Bang. Mau kemana?” tanya abang betornya ramah.
“Antar ke Evergreen ya Bang,” jawabku sambil naik ke betornya.
“Oke Bang. Gerak kita,”balasnya lagi.

Pagi ini terasa begitu damai, apalagi ketika angin subuh membelai mukaku secara perlahan. Terasa begitu dingin dan sangat nyaman. Maklum, moment seperti ini sangat jarang ku dapatkan. Aku bukanlah tipe morning person yang bisa bangun pagi dengan mudahnya. “Seandainya bisa setiap hari begini,” ucapku dalam hati. Ketika di jalan, tidak banyak percakapan antara aku dengan abang betornya, hanya sedikit obrolan ringan saja.

“Itu Bang, yang dekat mushalla ya.” kataku setelah memasuki komplek.
“Owh... Iya Bang,” balasnya.

Akhirnya, sampai juga di rumahnya Om Ian. Aku turun dari betor dan membayar ongkos betornya seraya mengucapkan terima kasih. Aku pun berjalan menuju rumah Om Ian.

“Assalamualaikum... tok... tok... tok...” ucapku sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam... Siapa ya?” jawab seorang wanita di dalam, tidak lama setelah mendengar salamku.
“Ini Erix, Tante.” jawabku dan dengan cepat membuka pintunya.
“Erix, kamu kapan kesininya? Kok gak bilang-bilang! Kan bisa dijemput sama Om Ian.”
“Barusan sampainya Tante. Semalam lupa ngabarin Om Ian. Hehe” jawabku lagi sambil menyalaminya.

Aku pun disuruh masuk oleh Tante Lia dan diantar ke kamar Bang Dion, abang sepupuku.

“Kamu tidur disini aja ya Rix. Bang Dionnya kan lagi di Jakarta, bulan depan baru balik. Atau kamu mau di kamar tamu aja?”
“Udah, saya di kamar Bang Dion aja. Disini banyak yang bisa dimainin,” kataku sambil melirik komputer dan beberapa alat musiknya.
“Ya udah, kamu istirahat aja dulu Rix. Om Ian masih di mushalla, tadi mungkin gak liat kamu.”
“Owh iya Tante, gak apa-apa,”

Aku merebahkan badan sebentar di kasur, lalu tiba-tiba teringat belum shalat Subuh. Aku pun bangkit dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan shalat Subuh. Selesai shalat aku duduk di teras sambil menunggu Om Ian pulang. Tidak berapa lama, Om Ian pun pulang. Dia terkejut dan heran melihatku di depan rumahnya.

“Hah, Erix? Kamu kapan sampainya?”
“Barusan Om, sekitar satu jam yang lalu,”
“Kamu sendirian? Kenapa gak telpon Om Ian, kan bisa Om jemput,”
“Iya sendirian. Maunya sih gitu Om, tapi semalam kelupaan. Hehe,” jawabku dan kemudian kami melanjutkan obrolan ringan yang bahasannya tentang kuliahku dan keluarga di rumah.

SIANG HARI aku terjaga dari tidurku. Setelah ngobrol tadi pagi sama Om Ian aku memutuskan untuk tidur, Om Ian dan Tante Lia juga berangkat kerja dan aku sendirian di rumah tidak tahu mau ngapain. Walaupun hari ini begitu membosankan, tapi waktu tetap berjalan dengan begitu cepat. Tidak terasa siang sudah berganti malam dan jam sudah menunjukan waktu pukul 22:00 WIB.

Aku merebahkan diri ke kasur, namun tiba-tiba handphoneku diatas meja berdering karena ada panggilan masuk. Aku bangun dan mengambilnya, lalu kembali merebahkan diri ke kasur sambil mengangkat panggilan tersebut.

“Halo... Rix, kamu di Medan ya? Kok gak ngasih tau?”
“Iya, ini di Medan. Lah, itu kamu kan udah tau, Sya?”
“Iya tau, tapi bukan kamunya yang kasih tau. Tadi aku liat tweetmu di Twitter,”
“Iya-iya maaf. Rencananya sih besok mau aku kasih tau,”
“Eh, besok aku jemput ya? Kirim alamatmu yah!”
“Hmm... Mau kemana? Besok hari Minggu aku mau tiduran di rumah,”
“Pokoknya besok jam 10 pagi aku jemput. Titik! Alamatnya jangan lupa.” dan panggilan pun diputuskan dengan sepihak.
“Huh! Tasya... Tasya...,” ucapku pelan.

Tasya adalah kenalanku dan juga temanku. Aku bertemu dengannya ketika terakhir kali aku ke Medan, saat libur kenaikan kelas 3 SMA. Siang itu, aku pulang mengantar pulang Bang Dion ke kampusnya. Dalam perjalanan pulang tersebut, aku melihat seorang wanita yang sedang mendorong motornya yang kempes. Aku pun melewatinya dan tidak menawarkan bantuan karena saat itu aku berpikir ada tempat tambal ban yang dekat di depan. Aku melanjutkan perjalanannya. Sudah 500 meter aku melaju, tapi aku tidak melihat ada tempat tambal ban. Aku juga baru ingat, di daerah itu tempat sepi dan rawan kriminal. Aku memutar balik motor dan kembali ke arah wanita tadi. Aku melihatnya sudah tidak lagi mendorong motor. Dia duduk disamping motornya sambil menangis sesunggukan. Aku berhenti tepat di depan motornya kemudian turun dari motorku.

“Bannya kempes?” tanyaku membuka obrolan.
“Iya,” jawabnya singkat sambil menyeka air matanya.
“Aku bantu dorong ya, soalnya tambal bannya jauh dan juga disini daerah rawan kriminal,”
“Iya,” jawabnya masih singkat.

Kemudian, aku pun menyuruh gadis itu untuk mengendarai motorku dan aku mendorong motornya. Dia mengikutiku pelan dari belakang. Sesekali dia juga minta gantian untuk mendorongnya, mungkin karena merasa tidak enak. Aku hanya tersenyum dan terus mendorongnya. 750 meter lebih, rupanya ada tempat tambal ban. Aku mendorong motornya ke tempat tambal ban tersebut. Aku pun tersenyum lega.

“Makasih ya,” ucapnya sambil tersenyum.
“Iya, sama-sama,” ucapku sambil tersenyum juga.
“Oh ya, kenalin, namaku Tasya,” katanya sambil menyodorkan tangannya.
“Namaku Erix,” jawabku juga sambil membalas jabatan tangannya.
“Sekali lagi makasih yah,”
“Iya-iya. Hehehe,”
“Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya,” kataku.
“Eh eh... Masa langsung pulang. Aku gak enak dong udah ngerepotin kamu. Aku traktir minum dulu gimana?”
“Hmm... boleh deh.” kemudian kami berjalan menuju kios depan.

Di kios itu kami berbincang-bincang sedikit. Arah perbincangannya masih seputar pribadi. Umurku dan umurnya tidak jauh berbeda, hanya beda 1 tahun. Tasya dari logatnya bukan orang Medan. Aku memberanikan diri dan menanyakannya. Rupanya memang benar Tasya bukan orang Medan asli. Dia asli Jakarta, tapi keluarganya pindah ke Medan beberapa bulan yang lalu ikut Papanya yang dinas di Medan. “Owalah, pantes logatnya gak Medan dan wajahnya mirip artis, rupanya Jakarta toh,” kataku dalam hati. Obrolan pun berlanjut dan meluas ke bahasan pendidikan, dan lain-lain.

“Dek, tambal bannya udah siap ini.” teriak tukang tambal ban di seberang jalan. Tasya pun membayar minuman di kios lalu kami ke tempat tambal ban.
“Makasih ya Pak. Ini berapa ongkosnya?” tanya Tasya.
“10 ribu aja Dek,”
“Ini Pak,” kata Tasya sambil menyerahkan selembar uang.

“Kalau gitu aku pulang dulu ya,” kataku.
“Iiiya... Eh, boolleh minta nomor kamu Rix?” tanyanya sedikit ragu.
“Oh, boleh. Sini handphonenya kamu biar aku catat.”
“Ini Rix. Handphonemu juga dong, biar aku catat nomorku” kata Tasya sambil menyerahkan handphonenya.
“Oh iya, nih” jawabku sambil menyerahkan handphoneku.

Tidak beberapa lama:
“Nih, udah Rix.”
“Owh, ini udah juga Sya.” sambil mengembalikan handphonenya.
“Erix Imam Rizki?” tanyanya.
“Aldella Natasya?” tanyaku.
Kami pun saling tersenyum.

Itu adalah kisah pertemuanku yang pertama dan terakhir dengan Tasya. Setelah hari itu kami tidak pernah lagi berjumpa karena aku kembali ke Aceh. Meskipun begitu, kami sangat akrab hingga sekarang walaupun hanya hanya berkomunikasi melalui telpon dan Twitter.

“Sekian tahun kami kita tidak berjumpa. Kira-kira seperti apa Tasya sekarang ya?” ucapku sambil melamun diatas kasur. Aku pun tertidur dalam lamunanku.

PAGI hari jam 9, aku sudah siap menunggu jemputan Tasya, setelah mengirimkan alamat rumah Om Ian kepadanya.

Handphoneku berdering menandakan ada panggilan yang masuk:
“Halo... Aku udah di jalan ya Rix. Alamatnya benerkan?” tanya Tasya.
“Iya, halo Sya. Ya bener dong Sya, masa aku kasih alamat palsu, kamu kan bukan Ayu Ting-Ting,”
“Hehehe. Aku jemput sekarang ya?”
“Iya, boleh Sya. Hati-hati di jalan ya!
“Iya... Bye!”
“Bye!”
Klik... telpon dari Tasya pun terputus.

Tidak berapa lama, sebuah mobil berwarna putih berdiri/berhenti di depan rumah. Seorang gadis berparaskan putri turun dari mobilnya. Dia berjalan sangat pelan ke arahku. Dahinya berkerut menandakan sedang bingung dan heran. Aku sendiri juga mengerutkan dahi karena penasaran, “Tasya kah? Mirip sih, tapi kok jaim begini dia ya? Perasaan kalau telponan selalu heboh!” tanyaku penasaran dalam hati. Dia masih berjalan pelan ke arahku, lalu tiba-tiba dia dia tersenyum sedikit, dan...

“Aaaa..... Erixxx.....” teriak Tasya sambil berlari dan memelukku.
“Aaaa..... Udah berapa lama kita gak jumpaaa...” teriaknya lagi.
“Aku udah hampir lupa wajah kamu gimanaaaaa...,” teriaknya lagi sambil melepaskan pelukannya.

Ah, rupanya memang Tasya. Kalau heboh begini sudah pasti dia. Tadinya aku mengira kalau dia bakal jaim karena sudah lama tidak berjumpa, tapi rupanya sifatnya masih heboh sama seperti kami telponan biasanya. Aku sendiri juga hampir lupa gimana wajahnya, walaupun aku sering melihat fotonya di Twitter. Terakhir kami berjumpa ketika aku ke Medan kelas 3 SMA dan sekarang aku sudah semester 4 kuliah.

“Siapa Rix? Tasya ya? teriak Om Ian dari dalam rumah.
“Iya, Om... Maaf temanku ini agak heboh Om” balas teriakku sambil becanda.
“Apa pulak Erix ni, malu tau” kata Tasya dengan logat medan kepadaku sambil cemberut.
“Ah, udah pakai logat Medan kau rupanya? Hahaha.” balasku bercanda.
“Hahaha,” kami pun tertawa.

Aku mengenalkan Tasya kepada Om Ian dan Tante Lia. Kami pun mengbrol berempat disana. Sekitar 30 menit ngobrol kami pun izin untuk jalan.

“Kami jalan dulu ya Om, Tante,” kata Tasya.
“Hati-hati kalian ya. Jangan kasih Erix bawa mobil.” kata Om Ian.
“Hah? Kenapa Om?,” tanya Tasya serius.
“Dia belum lancar bawa mobil soalnya. Hahaha.”
“Owh. Iya Om. Hahaha.” kata Tasya sambil tertawa dan aku hanya senyum kecut.

Lalu, kami pun berangkat. Hari ini aku “diculik” oleh Tasya untuk menemaninya jalan-jalan. Aku ingat dulu Tasya pernah berkata kalau dia ingin jalan ke beberapa tempat bersamaku. Dan hari ini, Tasya menculikku untuk mewujudkan salah satu keinginannya itu. Tapi tidak memberitahuku kemana. Setiap kali aku bertanya dia tidak menggubrisnya.

Selama di mobil, aku tidak banyak bicara, maklum aku masih canggung dengannya karena sudah lama tidak berjumpa. Tapi itu tidak berlaku bagi Tasya. Dia tetap seperti saat kami telponan. Tasya itu ibarat buku berjalan, semua bahan obrolan ada sama dia dan tidak pernah habis-habisnya. Aku hanya mendengarkan perkataannya dan sambil memikirkan apa yang harus aku jawab lagi. Sesekali, aku melirik Tasya melalui spion tengah mobil. “Kamu semakin cantik dan dewasa, Sya,” ucapku dalam hati.

Perjalanan sudah hampir sekitar satu jam, tapi Tasya masih terus memacu mobilnya.
“Sya, kemana sih?” tanyaku.
“Bentar, ini udah mau nyampe kok,”
“Hillpark Sibolangit?” tanyaku.
“Iya. Salah satu tujuanku sama kamu,”
“Emang ada berapa tujuan sih?”
“Banyak... tapi hari ini Hillpark Sibolangit aja dulu. Hehehe,” jawabnya sambil tertawa.

“Nih, udah sampe Rix.”
“Iya. Istirahat sebentar kita ya Sha. Pegel nih!”
“Iya.”

Baru sebentar istirahat, tanganku ditarik oleh Tasya. “Udah cukup istirahatnya. Yok masuk. Tiketnya aku yang bayarin ya Rix, kan aku yang ngajak,” kata Tasya. “Iya, boleh... boleh banget malah. Hahaha,” jawabku sambil bercanda.

Tasya tampak bahagia hari itu, walaupun kami hanya bisa menikmati beberapa wahana saja, karena Tasya baru ingat kalau sore ini ada janji sama Mamanya. Jam 1 siang, kami bergerak pulang ke Medan. Di perjalanan pulang Tasya sempat menggenggam tanganku sambil berkata, “Makasih ya Rix atas waktunya hari ini. Aku senang bisa kesini sama kamu.” dan aku pun menjawab “Iya, aku juga senang bisa kesini sama kamu.”

Tidak terasa, kami udah sampai di rumah Om Ian. Aku menyuruh Tasya untuk mampir dulu, tapi dia menolaknya karena ingin segera pulang. “Hati-hati di jalan Sya,” ucapku dan dia hanya tersenyum. Tidak berapa lama ada pesan masuk di handphoneku, “:)” sebuah emotion senyum yang punya artian beribu makna. Aku sendiri tidak tahu maksud Tasya mengirim emotion senyum itu untuk apa. Aku hanya membalasnya dengan sebuah emotion senyum juga “:)” tapi tiba-tiba SMS Failed. Aku lupa kalau pulsanya habis.

Malamnya aku kembali di jemput oleh Tasya, dia mengajakku ke sebuah mall. Selama jalan di mall, tanganku digenggam erat olehnya. Aku merasa nyaman dengan perlakuannya. “Sepertinya, aku benar-benar mulai jatuh cinta sama Tasya,” ucapku dalam hati. Sejak dulu aku memang sudah menyukainya, mungkin karena kami sangat dekat/akrab walaupun hanya berhubungan melalui telpon. Kini, rasa itu kian memuncak, ketika aku semakin dekat dengannya. Tapi, aku takut untuk berkata jujur, aku takut jika salah mengartikan kedekatan kami selama ini. Aku takut jika nanti harus kehilangan sosoknya karena kesalahanku ini. Selama ini kami juga tidak pernah berbicara masalah hati, dia juga tidak sedikitpun menyinggungnya.

“Rix, makan aja yuk,” tanya Tasya.
Aku masih masih melamun tentangnya dan tidak mendengarkan ajakan Tasya.
“Erixxx...,” panggilnya sedikit keras.
“Eh, Iya...,” jawabku tersadar dari lamunan.
“Apanya yang iya, ha?” tanyanya lagi cemberut.
“Hmm... Lupa Sya. Maaf. Hehehe.” jawabku.
“Duh, Erix... Tasya itu ajak Erix makan, mau?”
“Owh, ya udah. Yuks. Bilang dong dari tadi.” jawabku seakan tanpa bersalah.

Kami duduk saling berhadapan di salah satu meja. Pelayan datang membawa daftar menu.
“Kamu pesan apa Rix?”
“Terserah kamu aja, Sya.”
“Loh, yang makan kan kamu Rix,”
“Iya, tapi malam ini aku pengen makan makanan pesenan kamu.”
“Aneh kamu Rix. Hahaha.” kata Tasya sambil tertawa.
“Ya udah ini aja Mbak, sama ya, dua.” katanya kepada pelayan.

Tidak seberapa lama, pelayan membawa pesanan kita tadi.

“Enak gak Rix?” tanya Tasya.
“Agak kurang enak sih, tapi gak apa-apa lah!”
“Hah? Serius kurang enak? tanya Tasya sedikit panik.
“Hahaha. Becanda Neng, becanda!” jawabku. Tasya pun cemberut.

“Eh Sya, aku gak nyangka lho kita bisa sedekat ini,” kataku membuka obrolan lagi.
“Hah? Maksud kamu, Rix?” tanya Tasya penasaran.
“Iya, sedekat ini. Aku gak nyangka aja, kita bisa temenan dan malam ini kita bisa duduk berhadapan seperti ini, padahal dulu kita sama sekali gak kenal, dan kita kenalnya juga pas aku ngebantuin kamu dorong motor. Hehehe” kataku.
“Gak penting kita dulu itu saling kenal atau gak, yang penting kan sekarang kita bisa temenan dan sedekat ini,” jawabnya sambil tersenyum.
“Eh, aku boleh minta sesuatu Rix?” tanya Tasya.
“Hah? Minta apa?”
“Jawab dulu, boleh atau engga.”
“Hmm... Iya deh, boleh...”

Lalu, Tasya pun memegang dan mencubit pipiku. Orang-orang di meja samping bahkan sampai melihat ke arah kami.

“Hah?”
“Makasih ya,” kata Tasya.
“Hah? Makasih?”
“Iya, itu permintaanku. Dari dulu aku itu pengen banget pegang dan nyubin pipi kamu Rix. Setiap aku liat foto Twittermu, aku selalu pengen pegang dan nyubitin pipi kamu.” jawabnya. Aku tersenyum dan tertawa mendengar jawabannya itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat. Aku pun mengajak Tasya pulang. Ketika di parkiran, aku teringat kalau besok adalah hari terakhirku disini sebelum lusa aku harus kembali ke Aceh untuk melanjutkan studi kuliahku, dipikiranku juga terlintas untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya, sebelum aku terlambat dan menyesalinya... menyesali tidak pernah mengungkapkannya atau malah sebaliknya.

Di dalam mobil, aku berkata kepada Tasya untuk tidak menghidupkan mobilnya dulu karena aku ingin menyampaikan sesuatu padanya. Saat itu, aku sudah yakin untuk menyampaikan perasaanku kepada Tasya. Tapi sebelum itu, aku akan menyampaikan perihal kepulanganku ke Aceh dulu.

“Sya...,”
“Iya, Rix?”
“Besok hari terakhirku di Medan Sya. Malamnya aku akan pulang ke Aceh,”
“Hah? Kamu baru beberapa hari disini Rix. Kenapa cepat banget baliknya?”
“Aku disini cuma 3 hari Sya. Lusa aku ujian final di kampus.”

Hening... hanya itu yang aku rasakan saat itu. Tasya diam cukup lama, sambil memalingkan wajahnya dariku. Perlahan, aku melihat dia menyeka air matanya.

“Hei Sya, kamu nangis? Kenapa?” tanyaku
Dia tidak menjawabnya.

“Kita udah lama kenal, saling telpon-telponan, tapi baru hari ini kita bisa jumpa. Jujur, hari ini aku bahagia banget Rix... tapi aku juga sedih karena baru sebentar jumpa sama kamu.” jawab Tasya pelan. Aku melihat matanya berkaca-kaca, seakan sedang membendung air mata.

“Nanti kalau ada libur aku kesini lagi kok. Kan kita bisa jumpa lagi Sya. Lagian aku kan juga masih disini sehari lagi.” jawabku. Tasya diam cukup lama sampai akhirnya, bertanya:

“Aku boleh meluk kamu Rix?” tanya Tasya.
“Iya. Boleh,” jawabku.

Tasya pun langsung memelukku, cukup lama, sampai akhirnya dia melepaskan pelukannya.

“Besok aku sama kamu seharian ya Rix, dari pagi?”
“Emang kamu libur kuliah?”
“Engga sih, tapi gak apa-apa deh bolos sehari,”
“Hmm... Terserah kamu deh.” jawabku.
“Ya udah, sekarang kita pulang ya,” kataku lagi.
“Iya,”

Tasya pun memacu mobilnya. Saat hampir sampai rumah, aku baru ingat kalau aku lupa menyampaikan apa yang tadinya benar-benar ingin ku sampaikan. Aku lupa menyatakan perasaanku kepadanya. “Apa aku bilang sekarang aja ya? Ah, tapi kondisinya tidak tepat. Kasihan Tasya juga pulangnya kemalaman.” ucapku dalam hati dan aku pun memutuskan untuk tidak mengatakannya.

“Sampai jumpa besok Rix,” katanya ketika menurunkanku di depan rumah.
“Iya Sya. Hati-hati ya,” jawabku dan Tasya membalasnya dengan senyum.

Sebenarnya aku juga sedih harus meninggalkan kamu disini Sya, apalagi kita sedang dekat-dekatnya, ditambah aku juga menyimpan perasaan kepadamu. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, ujian final tidak bisa ditunda, dan itu juga penting untuk nilai yang akan berguna di masa depanku. Huh.

PAGI HARI, seseorang menggoyang-goyangkan badanku. Aku terlelap di sofa ruang tamu seusai shalat Subuh tadi. Aku tidak memperdulikannya dan masih enggan membuka mataku.

“Erix... Bangun Erix...”
Aku mendengar seorang wanita memanggil namaku sambil menggoyangkan badanku lagi. Suara itu sedikit asing bagiku, tapi aku mengenalnya. “Seperti suara... Tasya...” Bruak... aku pun langsung terjaga.

“Tasya?”
“Maaf yah, udah bangunin kamu. Hehehe”

Ternyata itu Tasya. Dia datang seperti katanya semalam yang akan menemaniku seharian dari pagi. Aku melihat ke arah jam dinding, ternyata baru pukul 7 pagi.

“Kami berangkat kerja dulu ya Rix, Tasya. Nanti kalau mau keluar kuncinya dibawa aja, Tante sama Om ada kunci lain. Makanan udah disiapin, ajak makan Tasya juga sekalian.”
“Owh. Iya Tante. Makasih ya,” jawabku.
Mereka pun berjalan keluar dan... klik, pintu rumah ditutup oleh Om Ian.

“Rix... mandi dulu sana. Bentar lagi kita jalan-jalan.”
“Gak usah jalan dong hari ini Sya, di rumah aja, kita nonton-nonton.”
“Bosen ah di rumah...”
“Iya sih bosen, tapi ada kamu disini mana mungkin aku bosen. Hehehe.” jawabku sedikit menggodanya.
“Ah... Erix... Udah berani gombal ya. Hahaha.” ledeknya sambil tersipu malu.
“Hehehe. Ya udah, aku mandi dulu. Tapi kita gak jalan ya? Di rumah aja nonton.”
“Hmm... Huh... Iya deh,” jawabannya cemberut.

Aku pun ke kamar untuk mandi, sedangkan Tasya di ruang keluarga menonton TV. Selesai mandi, aku teringat “misi” semalam untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun sebelum itu, aku menyempatkan diri makan dulu.

“Sya, makan dulu yuk,”
“Aku udah makan tadi di rumah Rix. Kamu lanjut aja.”
“Ah, boong kamu Sya. Sini gak usah malu-malu,”
“Serius Rix. Lagian makanan gratis ngapain malu. Hehehe.”

Mungkin Tasya memang sudah makan, untuk apa memaksanya. Aku duduk dan makan disamping Tasya. Iseng aku menanyakan lagi dia mau makan atau engga.

“Yakin kamu gak mau makan?”
“Iya... Udah kenyang pun.”
“Kalau abang Erix yang suapin mau?” tanyaku bercanda.
“Hehehe. Hmm... Boleh deh, dikit aja ya Rix.
“Ya udah aaakkk...” Tasya membuka mulutnya.
Aku pun menyuapinya, hingga beberapa kali suap.

Setelah makan, kami menonton beberapa film yang kami putarkan melalui DVD.

“Bosen ah Rix. Keluar yuk!”
“Ah, filmnya lagi asik ini. Kalau bosan nonton kamu baca majalah aja,” jawabku sambil menunjuk letak majalahnya.

Tasya mengambil majalah tersebut lalu membacanya. Aku melihat Tasya sudah beberapa kali ganti posisi membaca, dari mulai duduk, tiduran di lantai, berdiri, hingga akhirnya:

“Rix. Boleh pinjem paha kamu?”
“Hah? Untuk?”
Lalu Tasya tiduran di sofa dam menyandarkan kepalanya ke pahaku.
“Pinjem, sebentar,” katanya.
Aku hanya tersenyum.
“Cablak banget sih kamu Sya. Hehe,” kataku dalam hati.

Dia tampak serius membaca. Sesakali aku mengusap rambutnya pelan. Dia menurunkan majalahnya, dia tersenyum kepadaku. Lalu, kami kembali larut dalam aktivitas masing-masing. Aku menonton dan Tasya membaca. Sadar aku pegal, Tasya bangun dari posisi tidurnya. “Maaf ya. Hehehe.” ucapnya manis.

Film yang aku tonton pun sudah habis. Aku memilih untuk ngobrol sama Tasya. Banyak yang kita bicarakan waktu itu, hingga sampai pada suatu pertanyaanku:

“Tasya, maaf sebelumnya, aku boleh nanya sesuatu ngga?”
“Boleh, tanya aja Rix,”
“Tapi jangan marah ya?”
“Iya...”
“Kamu kenapa engga pake jilbab?
Lama Tasya berpikir, lalu dia hanya menjawabnya dengan senyum.
“Kok cuma senyum aja? Dijawab dong Sya. Hehehe,”
“Aku... Aku...”
“Aku apa, Sya?”
“Aku... Aku... Aku... non-muslim Rix.”

Hah? Saat itu aku tidak bisa berkata apa-apa. Cukup lama aku diam. Disaat aku mulai menemukan keseimbangan dari seseorang yang aku cinta untuk berdiri, aku malah terjatuh kembali, dan kali ini aku terjatuh lebih dalam dari sebelumnya. Aku baru sadar selama ini kalau aku tidak tahu apa agamanya dan aku juga tidak pernah menanyakannya.

Lama kami saling diam... sampai akhirnya aku minta maaf atas pertanyaanku kepada Tasya.

“Maaf ya Sya,”
“Iya, gak apa-apa kok Erix,”

Aku sebisa mungkin mencoba untuk mencairkan suasana seakan kejadian tadi tidak pernah terjadi. Aku mencoba membuka obrolan kembali tapi kami sudah kaku, saling diam tak bicara. Hingga, Tasya:

“Rix... aku boleh ngomong sesuatu sama kamu,”
“Iya boleh, ngomong aja Sya,”
“Aku sebenarnya... Aku sebenarnya... suka sama kamu Rix.
Aku kaget, senang, sekaligus gundah mendengarnya.
“Kok bisa, Sya? Sejak kapan?”
“Rasa itu muncul begitu aja Rix, saat pertama kali kita bertemu, sejak kamu bantu dorong motorku, aku sudah suka sama kamu. Makanya ketika kamu pamit pulang, aku memberanikan diri untuk meminta nomormu. Selama hidupku, itu baru pertama dan terakhir kalinya aku minta nomor seorang cowok Rix.
“Mungkin kamu cuma kagum karena aku baik sama kamu?”
“Iya, awalnya aku berpikir gitu juga Rix, tapi lama-kelamaan aku melihat kalau aku bukan hanya sekedar kagum sama kamu, tapi aku suka dan sayang sama kamu! Dari dulu ketika kita telpon-telponan aku menyembunyikan perasaan ini. Tapi sekarang aku tidak sanggup lagi menyembunyikan perasaanku ini Rix. Aku... sayang sama kamu.

Tasya mengambil tanganku lalu menggenggam dengan erat dan aku hanya diam.

“Erix... Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”

Bruak... Ini adalah hal yang aku harapkan, dia juga mencintaiku. Tapi... itu dulu, sebelum aku mengetahui “sesuatu” tentangnya selama ini. Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Aku menatap mata Tasya yang semakin berkaca-kaca dan seakan ingin menangis.

“Sya... Sejak dulu, aku juga sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Tapi... sepertinya kita tidak mungkin bersama. Maaf Sya.

Tasya tidak bisa lagi membendung air matanya. Tasya menangis. Aku sendiri juga sedang kacau, aku baru saja menolak orang yang aku sayang dan cintai selama ini.

Perlahan, Tasya menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mengusap lembut rambutnya. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat itu untuk menenangkannya. Lama... Tasya mulai tenang dan tidak menangis lagi.

“Apa karena kita berbeda Rix? tanya Tasya pelan padaku. Aku tidak menjawabnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Aku hanya diam sambil menyeka sisa air matanya. Lalu... Tasya tertidur di bahuku.

Suara azan dzuhur membangunkanku. Rupanya aku juga tertidur bersama Tasya yang masih bersandar di bahuku. Sesaat Tasya juga terbangun dari tidurnya.

“Eh, maaf Sya. Jadi kebangun gara-gara aku,”
“Iya gak apa-apa kok. Eh ya kamu shalat dulu sana.”
“Iya.”
Tasya memang selalu menyuruhku shalat, dan karena itu aku berpikir kalau dia seagama denganku.

Sore hari, Tasya pamit pulang untuk mandi dan ganti baju. Nanti malam dia akan kembali lagi kesini untuk mengatarku ke terminal. Aku mulai melipat dan memasukkan pakaian ke dalam tasku.

Setelah Isya, sebuah mobil menepi di depan rumah. Aku melihat ke luar dan rupanya Tasya sudah di depan rumah siap untuk mengantarku ke terminal. Malam ini, aku akan kembali ke Aceh. Aku berpamitan kepada Om dan Tanteku.

“Om, Tante, itu Tasyanya udah datang. Erix pamit pulang dulu ya,”
“Iya Rix. Sering-sering kesini ya,” jawab tanteku.
“Hehe. Iya Tante. Insya Allah.” jawabku lagi.

Lalu kami pun bergerak ke terminal bus. Sesampainya di parkiran terminal, aku pamit kepada Tasya. Namun dia menarik tangganku untuk tidak keluar dulu. Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca. Aku mengerti.

“Rix... Aku sudah tahu dari dulu kalau kamu itu “mayoritas”, tapi entah kenapa aku tetap saja suka sama kamu. Aku sudah coba untuk tidak menyukaimu, tapi aku tidak bisa. Aku tetap luluh akan sosokmu. Aku harap, kamu mau bersamaku. Namun jika menurut kamu kita tidak bisa menjalin hubungan denganku, aku harap kita tetap bisa menjadi sahabat, seperti sekarang,” ucapnya sambil menangis (lagi).

“Iya, maaf ya Sya. Mungkin kita memang ditakdirkan sebagai sahabat Sya. Sekali lagi, maaf jika mungkin aku menyakitimu.” balasku. Lalu aku pun memeluknya dengan lama. Lalu...

“Rix...” panggil Tasya.
“Iya Sya?” sambil melepaskan pelukannya.

Cuppp! Bibir Tasya mendarat di bibirku. Terasa ciuman yang begitu lembut dari Tasya.
“Ciuman pertamaku, hanya untuk sahabatku,” ucapnya setelah itu.

Kemudian, aku turun dari mobil Tasya dan bergerak menuju bis. Tasya membuka kaca mobilnya dan berteriak kepadaku, “Jangan berubah ya Erixxx... :)

PS: Ini hanya tulisan fiksi untuk memenuhi tugas kuliah. Nama saya yang sebenarnya adalah Muhammad Rizki, bukan Erix Imam Rizki. Mohon maaf jika ada kesamaan nama.

No comments:

Post a Comment