Sunday, November 30, 2014

Analisa Tulisan "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" Karya Alfian Hamzah

Tentara Nasional Indonesia (Ilustrasi)

Kata Kusekolahkan (disekolahkan) yang ada pada judul tulisan "Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan" karya Alfian Hamzah ini bermaksud eksekusi mati bagi anggota GAM yang tertangkap. Kata tersebut adalah bahasa slang (bahasa gaul) yang digunakan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia). Pasukan Brigade Mobil (Brimob) menggunakan istilah “kosong-satu” untuk hal yang sama.

Tulisan bergenre Jurnalisme Sastrawi ini sudah saya baca untuk kedua kalinya. Pertama di Kaskus subforum Militer beberapa bulan lalu dan kedua beberapa hari ini untuk tugas analisa tulisan oleh Pak Taufiq Al Mubaraq, dosen mata kuliah Penulisan Kreatif. Meski sudah dua kali membacanya, saya sama sekali tidak merasa bosan dengan tulisan ini.

Tokoh: 
  • Alfian Hamzah, seorang wartawan asal Kediri yang mendapatkan izin dari Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Aceh Mayor Jenderal Djali Yusuf untuk meliput dan hidup bersama serdadu-serdadu Indonesia dari Batalyon Infanteri 521/Dadaha Yodha yang "bekerja" di provinsi yang bergolak sejak 1970-an ini.
  • Prajurit Kepala Muhamad Khusnur Rokhim, anggota TNI dari Batalyon 521/Dadaha Yodha. Perawakannya sedang bahkan kurus untuk ukuran tentara, tingginya sekitar 170 centimeter, wajahnya tirus dengan rahang menonjol, serta banyak bekas luka di wajahnya yang hitam. Selalu berhati-hati dan juga selalu dalam posisi siap tempur. Sembahyang dan mengajinya tak putus. Saat salat berjamaah, dia yang selalu melantunkan azan. Saban Jumat, dia rutin merapal Yasin dan Tahlil. Dia punya seorang istri dan anak di Kediri.
  • Sersan Satu Handoko, orangnya simpatik. Banyak warga desa Aceh yang menyenanginya. Handoko fasih berbahasa Aceh. Dia menikah dengan seorang gadis Pidie 1999 silam.
  • Letnan Kolonel (Infanteri) Ucu Subagja, komandan Batalyon 521/Dadaha Yodha.
  • Kapten Dedi, perwira seksi operasi. Dia adalah panglima perangnya Batalyon 521 di Aceh Barat.

Alur cerita yang digunakan pada tulisan ini adalah alur kronologis, dimana setiap peristiwa diceritakan secara detail; dari peristiwa penting, obrolan antar mereka, bunyi kokangan senjata, hingga rentetan suara peluru. Rrrreetttttttttttt-ret-rettttttttt...tang-tang-tang. Ah, begitu pandai Alfian Hamzah menceritakan detail demi detailnya. Tapi, saya juga merasakan sedikit kekurangan pada tulisan ini, Alfian Hamzah lebih banyak bercerita tentang Rokhim dibandingkan yang lainnya.

No comments:

Post a Comment